Kamis, 11 Februari 2016

CERPEN : Biarlah Aku yang Pergi

Mentari telah bersinar kedalam kamarku, seakan membisikan sang pemilik ruangan untuk bangun dari tempat tidurnya. mataku seakan sayu-sayu untuk membuka mata.
"aahhhhhh rupanya sudah pagi" gerutuku pagi ini.
Aku langsung bergegas mengambil handukku di belakang pintu dan segera menuju kamar mandi. Setelah aku selesai mandi aku langsng memakai seragam sekolahku. Tak lama aku sedang merapikan rambut Bi Imas memanggilku dari balik pintu kamarku.
"Non, Angel makanan sudah siap dan semua sudah menunggu non untuk sarapan dibawah." teriak Bi Imas dari balik kamarku.
"iya bi sebentar Angel masih merapikan rambut" sahutku kepada Bi Imas.
Bi Imas adalah pembantu rumahku yang mengurusku sejak kecil, bagiku dia adalah pengganti sosok seorang ibu, yg selalu mengerti kondisiku, kesedihanku dan kesakitanku.

Tak lama aku keluar dari kamar dan bergegas turun kebawah. sesampainya aku dimeja makan aku melihat makanan kesukaanku nasi goreng dan ada telur mata sapi,aku langsung mengabil telur itu yg berada di depan mama. Sontak aku kaget ketika mama memukul tanganku.

"kamu gak sopan banget sih ada mama main ambil makanan pakai tangan" bentak mama
" iya kamu ini gimana si ngel, harusnya kamu sopan dong lebih menghargai mama sebagai orang yg paling tua dan ibummu" sambung kakak perempuan ku Ka Rianti
"iya iya ma, ka maafin Angel" sahutku kesal.
dasar anak gak sopan" gerutu Ka Bastian
"kamu harusnya meniru Ka Rianti yg bisa sopan dan bersikap feminim, bukan seperti ini"
omel mama.
Seakan selera makanku hilang saat kejadian ini. Aku langsung berbalik badan dan pergi meningglkan ruang makan menuju kesekolah. Walaupun perutku terasa perih karna maag ku yang mulai kambuh, untung saja Bi Imas memberikanku bekal tadi pagi.

Setelah sampai dirumah sepulang ku sekolah aku langsung masuk ke kamar, karna semua orang belum pulang dari kegiatannya masing-masing. Aku mengurung diri seharian ini. Namun, tak ada yg memperdulikan aku sedikitpun. Hanya Bi Imas yg yang membujukku keluar untuk makan, untung saja tadi sepulang sekolah aku sempat makan dan membeli beberapa makanan untukku sekarang. Semua orang tak memperdulikan aku, mereka asik membanggakan Ka Rianti dan Ka Bastian dengan segudang prestasinya. Kejadian ini terjadi 5 tahun yg lalu setelah papa meninggalkan aku. Dulu masih ada orang yg menyayangiku yaitu papa tapi setelah papa pergi tak ada lagi orang yg sayang kepadaku. Terlebih lagi papa meninggal karna menolongku sewaktu aku menyebrang jalan sampai akhirnya papa tertabak mobil. Jika aku mengingat hal ini, hanya penyesalan yg ada dalam benakku. Mama semakin benci kepadaku. 

2 hari telah berlalu aku megurung diri, karna sekolahku sedang libur jadi aku malas untuk kemana-mana dan malas untuk keluar kamar. Namun tak ada yg memperhatikanku. dari dalam kamarku terdengar suara yg sangat aku kenal. Suara Ka Hisyam seseorang yg selama ini aku tunggu kepulangannya dari Kendari. Seseorang yg dulu sangat menyayangiku. Juga tante Ratna dan om Galuh, seseorang yg bisa membuat hatiku  tenang dan tulus menyayangiku.

Aku segera turun untuk menemui Ka Hisyam. Namun, setelah ku temui ka Hisyam dia sudah berbeda sekali, dia cuek kepadaku, dia seakan sudah tak ingin mengenalku. Sama halnya tante Ratna dan om Galuh seakan melihat wajahku saja tak mau. 

Aku langsung naik kembali dan mengurung diri lagi ke kamar. hanya suara Bi imas yg terdengar dari balik pintu. aku hanya bisa menangis meratapi semua ini. hanya ada satu pertanyaan dalam benakku. "apakah aku anak kandung mama?" pertanyaan itu seakan bergentayangan diotakku. sekarang semua orang sudah tidak menyayangiku, bahkan orang yg dulu sangat menyayangiku sekarang seakan tak mengenalku.

(*esoknya)

Hari yg paling kunantikan akhirnya tiba juga, pertandingan karateku sudah tinggal didepan mata. Tekadku sudah bulat untuk bisa menunjukkan prestasiku. Aku ingin mama dan kakak-kakak bangga padaku, bahwa aku bisa. Aku meminta izin kepada mama sekaligus mengajak mama untuk datang kepertandinganku. 
"ma, datang ya hari ini angel ada pertandingan karate" pintaku dengan penuh harap
"tidak bisa, mama mau menonton Ka Rianti olimpiade matematika" jawab ketus mama
"ka Bas, temani Angel ya tanding karate?" pintaku
"tidak bisa, aku menemani mama" jawab seadanya Ka Bastian
Dengan kecewa yg kubawa, aku berjalan keluar rumah dan berangkat ketempat pertandingan seorang diri. Dalam perjalanan aku hanya berfikir bahwa aku harus menang dan menunjukkan bahwa aku bisa membanggakan mereka. 

(*beberapa jam kemudian)

Pertandingan selesai dan aku meraih juara pertama. pembawa acara memanggil namaku
"inilah sang juara kita  Angelina Azurita" pembawa acara memanggil namaku
Dengan bangga aku naik ke atas podium dinomor 1, aku bahagia karna apa yg aku harapkan tercapai, namun sedih ketika seperti ini kelurgaku tidak berada ditengah-tengah kegembiraanku.

Sesampainya aku dirumah, aku memajang foto kemenanganku diruang tengah diantara foto-foto kemenangan ka Rianti. namun, sesampainya mama, ka bastian dan Ka Rianti. Mama memarahiku karna foto itu diletakkan diruang tengah.

"apa-apaan nih? kamu mau meledek kakakmu?" omel mama
"apa si mah Angel bingung, angel gak ngerti?" sahutku bingung
" kakakmu kalah dalam olimpiade, sedangkan kamu menang dan menaruh foto itu." jawab mama
"kamu mau pamer?" tambah ka Bastian
"engga kok ma, ka, Angel cuma ingin memberitahu mama sama kaka" jawabku sedih.
Yang kulihat Ka Rianti hanya menangis tak berbicara apa-apa
" kamu senang kan melihat aku kalah ?" bentak ka Rianti
Lalu ka Rianti berlari masuk ke kamarnya. Aku bergegas mengejar ka Rianti. Aku mengetuk pintu kamarnya dan aku masuk kedalam kamarnya
"maaf ka, bukan maksudku membuat kakak sedih, sudahlah tak ada gunanya menangis"
rayuku mencoba menenangkan ka Rianti
"sudahlah kamu pasti senang kalau aku kalahkan?" jawab ka Rianti sinis.
"tidak ka aku tidak seperti yg kakak pikirkan." sahutku mencoba menenangkan 
"sudahlah keluar kamu!!!" (ka Rianti berdiri dan mendorongku) Namun, bukan aku yg jatuh malah ka Rianti yg jatuh tepat dihadapanku.
Aku berteriak meminta pertolongan
"ma, ka Bas , ka Rianti pingsan tolong ma, ka Bas" teriakku.
"kamu apakan kakakmu sampai seperti ini?" omel mama emosi
"aku gak apa-apain ma, mungkin penyakitnya kambuh, ayo kita bawa kerumah sakit" ajak Angel

(*dirumah sakit)

"anak ibu ginjalnya sudah tidak berfungsi dengan baik lagi. kita harus mendapatkan ginjal untuk menyelamatkannya" kata dokter
"baik dok saya akan coba carikan ginjal yg cocok untuk Rianti" jawab mama
"baik bu, pihak rumah sakit juga akan mengusahakannya." jawab dokter.
Mama, ka Bastian, tante Ratna dan om Galuh langsung menyuruhku medonorkan 1 ginjalku untuk ka Rianti. karna memang ginjalkulah yg cocok untuk ka Rianti setelah kami memeriksanya, Namun, aku tidak mau mendonorkan ginjal ini, aku tidak mau jika aku mendonorkan ginjal ini, mama akan menyayangi dengan alasan hutang budi dan tidak tulus menyayangiku. Aku hanya ingin disayangi dengan tulus.
 "bu, kami sudah mendapatkan pendonornya" kata dokter
"aahhh syukurlah, siapa dia dokter?" tanya mama.
"dia tidak mau diberitahukan identitasnya bu" jawab dokter
" ahh baik sekali hatinya, baik dok lakukan yg terbaik untuk anak saya." pinta mama
"pasti bu" jawab dokter
"Lihat, hati orang lain lebih malaikat dari pada kamu Angel, mama benci sama kamu, disaat kakakmu menderita bahkan kamu tidak mau menolongnya. adik macam apa kamu?" kata mama emosi
Aku tak mengindahkain kata-kata mama, aku langsung bergegas pergi dari tempat itu.

*2 minggu berlalu

Hari ini ka Rianti pulang dari rumah sakit karna keadaannya sudah membaik. Semua orang sudah menunggu kedatangan ka Rianti dirumah.
"Happy Birthday Rianti" teriak semua orang yg ada dirumah itu.
"ah terimakasih om, tante, mama ka Bas dan Hisyam" kata Rianti terharu.
"oh iya ma, Angel mana ya ma? selama ini Rianti selalu teringat dia" tanya Rianti
"oh iya sudah 2 minggu setelah kamu masuk rumah sakit mama tidak lihat. kemana anak si pembuat onar itu" gerutu mama
lalu tak lama kemudia mama memanggil Bi Imas dan menanyakan keberadaan Angel. dan Bi imas kembali lg ke belakang dan memberikan sepucuk surat. Mama membaca surat itu dengan suara lantang yg berisikan,

"assalamualaikum ma, ka Bas dan Ka Rianti. apakabar kalian? semoga sehat selalu ya. Gimana kabar ka Rianti? pasti sudah lebih baik, dan harus selalu baik ya ka.  Mungkin disaat kalian baca surat ini, aku sudah tidak ada lagi. teruntuk mama yg aku sayangi, bagaimana keadaan mama sekarang? pasti jauh lebih baik tanpa adanya anak sipembuat onar, si pembuat malu keluarga dan yg selalu menyusahkan mama. Maaf waktu dirumah sakit aku mengecewakan mama dengan tidak mendonorkan ginjalku untuk ka Rianti. tapi bukan itu maksudku mah. aku hanya inin mendonorkan ginjalku tanpa sepengetahuan kalian, aku hanya ini disayangi dengan tulus tanpa ada rasa simpatik karna aku mendonorkan ginjlaku. dan sekarang sudah saatnya mama tau bahwa yg ada didalam tubuh ka Rianti itu salah satu ginjalku. aku rindu padamu ma, aku rindu pelukanmu. aku sangat menyangimu. 

teruntuk ka Bastian yg aku sayangi. bagaimana ka rasanya tidak ada aku? tidak ada yg menganggu makanmu, belajarmu bahkan tidak ada yg menjailimu lagi? ahaha pasti tenang dan damai kan dirumah itu tannpa hadirnya makhluk aneh sepertiku? syukurlah.
teruntuk ka Rianti yg paling aku sayangi. Selamat ulang tahun ya ka yg ke 20 tahun, mungkin tanggal ini bertepatan sama dengan ulang tahunku, tp tidak untukku. semoga kaka bisa lebih tenang tanpa adanya aku, tidak ada yg mengganggu kakak lagi saat belajar. semoga kakak tidak membuang-buang waktu lg buat memarahiku. aku sangat sayang padamu ka
mungkin Angel akan menyusul papa sebentar lagi. Angel sudah lelah dengan segala kehidupan Angel, angel ingin beristirahat.
Angel Sayang Kalian Semua
wassalam"
                                                                                                             
"semua orang menanyakan kepada Bi Imas kemana angel pergi, semua orang menangis membaca surat Angel . Bi imas hanya menjawab bahwa selama ini non Angel berada dirumah sakit, karna operasi yg dilakukan membuat angel mengalami kerusakan ginjal. Sontak semua orang terkejut. saat semua bergegas menuju rumah sakit. Namun, semua sudah terlambat. Angel telah pergi jauh menyusul papanya. Penyesalan mama, ka Bas dan ka RiantI sesal tiada akhir

                                                          _END_
                  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar